RSS

Cerita Lampau

25 Mar

MAAF, AKU BUKAN SITI NURBAYA

Sebatang bunga bakung pemberian Kang Parjo, tegak berdiri di dalam vas bunga warna hijau, pemberian ibuku setahun yang lalu. Kang Parjo merupakan salah satu lelaki di desa ini, desa Margo, desa kelahiranku, yang menunjukkan secara terang-terangan bahwa ia menyukaiku. Kang Parjo, seorang lelaki tak makan sekolahan namun pandai berdagang. Dia termasuk pedagang buah yang sukses. Jeruk, apel, anggur, pir, durian dan buah-buah lainnya. Kang Parjo lelaki yang menyenangkan. Senyumnya manis dan terasa tulus. Badannya tidak terlalu gagah namun wajahnya menyenangkan untuk dipandang walaupun tidak terlalu tampan.

Aku mulai sadar akan keberadaan Kang Parjo setahun yang lalu. Setiap pulang kampung, aku selalu menyempatkan diri untuk berbelanja ke pasar, walaupun hanya menemani bapakku untuk memeriksa dagangan. Bapakku sudah lama tidak turun langsung ke pasar. Ada Kang Narto yang menjadi kepercayaan bapak. Kang Parjo merupakan adik dari Kang Narto. Setiap aku akan pulang, Kang Parjo sering memberikan sekantong buah yang bermacam-macam. Dan kebetulan juga los buah milik Kang Parjo bersebelahan dengan los milik bapakku. Sehingga tanpa curiga aku menerimanya. Dan lagi bapakku tidak berkomentar apapun. Sehingga aku biasa menerimanya.

Seiring berjalannya waktu, aku dan Kang Parjo sering berdiskusi tentang bermacam-macam hal. Aku yang sedang kuliah di jurusan gizi, tentunya ingin mengetahui bermacam-macam buah serta khasiat-khasiatnya. Kang Parjo termasuk pedagang buah yang pintar. Beberapa informasi yang dia berikan, terkadang memberiku inspirasi saat mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Kang Parjo, lelaki yang menyenangkan. Tidak terlalu mengurui. Kata-kata yang dia pergunakan mudah dipahami. Kang Parjo hanyalah lulusan sekolah dasar yang ada di desaku. Namun pengalaman hidup yang membuatnya matang. Orangnya sholeh. Di bagian belakang losnya ada sedikit ruang untuk sholat. Disana juga tersedia mukena, walaupun dia tidak memiliki pegawai perempuan. Dalam menjalankan los buahnya, Kang Parjo dibantu 2 orang saudaranya.

Sebenarnya aku tak terlalu mengenalnya, karena aku termasuk wanita yang tidak terlalu suka bergaul dengan laki-laki. Keluargaku terkenal sangat ketat dalam mengatur pergaulan social. Tidak semua orang bisa mengenal dan dekat dengan keluagaku. Keluargaku juga termasuk keluarga pedagang yang sukses. Sangat sukses. Ayahku, bapak Marwoto, pencetus ide dibangunnya pasar tradisional yang hanya ada satu-satunya di desaku ini. Ayahku pula yang menguasai sebagian besar los yang ada di pasar Margo.

Ayahku dikenal sangat keras dengan aturan yang telah ia tetapkan. Pergaulan hanya terbatas pada teman-teman sekolah saja. Tak ada toleransi yang akan diberikan apabila salah satu dari anak-anaknya ketahuan bergaul dengan salah seorang anak kampung. Uang saku akan dihentikan untuk jangka waktu 3 hari. Dan akan berlipat ganda untuk hukuman selanjutnya. Namun beranjak dewasa kami sudah terbiasa, tanpa ada hukuman tersebutpun kami bertiga tidak terbiasa untuk bergaul dengan anak-anak kampung.

Ibuku hanya gadis desa yang beruntung karena diperistri oleh bapakku. Hal ini membuat sikap ibu selalu membela bapakku. Entah salah atau benar keputusan yang diambil. Ibu bernama Suwati, wanita asal desa sebelah, desa Kunti. Desa yang terkenal sebagai penghasil jeruk.

“Surti………………….”

“Surti………………….”

Suara ibu telah membangunkan aku dari lamunan indah tentang Kang Parjo dan tentang keluargaku tentunya. “Iya ibu. Sebentar……………”, jawabku. Walaupun aku keturunan orang Jawa dan hidup di desa, tetapi keluarga kami biasa menggunakan bahasa Indonesia untuk kehidupan sehari-hari. Agar terkesan modern, kata bapakku.

“Ada apa, bu?”, ujarku saat berada di dekat ibu.

“Dipanggil bapak di ruang tengah. Kamu rapikan dulu baju dan rambutmu itu. Ada tamu di ruang tengah yang ingin bapak perkenalkan. Sudah cepat sana..”, jelas ibu.

Dengan kening berkerut aku bergegas masuk kamar. Dengan sedikit bertanya-tanya aku keluar dan langsung menuju ruang tengah. Dengan perlahan tanganku menyibak kelambu biru laut yang membatasi ruang tengah dan ruang makan. Aku memunculkan diri di depan bapak dan seorang tamunya. Laki-laki yang masih cukup muda, seumuran Kang Parjo. Hatiku langsung mencelos, mengapa aku memikirkan Kang Parjo terus? Bukan karena bunga putih kesukaanku yang diberikannya tadi pagi kan? Entahlah. Keberaniaan Kang Parjo untuk mendekati aku dan keluargaku membuat hati ini menaruh simpati, dan mungkin juga sedikit suka dengan kepribadiannya yang sederhana.

“Kata ibu, bapak memanggil Surti ?”, tanyaku pada bapak yang duduk berhadapan dengan lelaki muda itu.

“Duduk di sini “, jawab bapak sambil menepuk kursi disebelahnya.

Setelah aku duduk di sebelah bapak, bapak langsung memperkenalkan tamu mudanya.

“Kenalkan ini nak Panji. Dia anak kenalan bapak di kota “. Lelaki muda yang bernama Panji itu hanya tersenyum padaku dan aku hanya sedikit meringis.

Lalu bapak melanjutkkan memperkenalkan Mas Panji pada anak bungsunya ini.

“nak Mas Panji ini, sarjana dari Jakarta. Bapaknya seorang petinggi di kota. Begini saja. Kamu dan nak Mas Panji berkenalan sendiri saja ya. Biar lebih dekat dan lebih akrab “

Aku hanya bisa menjawab, “Iya pak”. Sedangkan anak kota itu hanya tersenyum dan sedikit mengangguk.

Lalu bapak beranjak masuk dengan terlebih dahulu menepuk pundak Mas Panji, dengan senyum yang menurutku sedikit mencurigakan.

Setelah ditinggal berdua, aku hanya memandang ke arah samping. Sedikit tidak berminat memulai pembicaraan.

“Dhek Surti, apa benar hari ini sedang berulang tahun ? “, tanya Mas Panji memulai pembicaraan.

“Mas Panji tahu dari mana ?”, aku bertanya balik kepadanya.

“Bapak yang bilang, ulang tahun yang ke 21 ya… Selamat Ulang tahun ya, moga panjang umur “

“Terima kasih mas “

“Oya, sudah dapat hadiah apa hari ini ?”

“Memangnya kenapa mas ? Mau memberi saya hadiah ?”, jawabku sedikit asal. Menurutku laki-laki ini penuh basa-basi. Penampilannya rapi, dengan hem kotak-kotak warna hijau. Celana jins yang melekat di kakinya tampak baru. Demikian pula dengan sandal coklat yang digunakannya.

Tanpa aku sangka Mas Panji mengulurkan sebuah kotak hijau, yang sedari tadi tidak aku lihat karena berada di sebelah kursi yang diduduki Mas Panji.

Dengan sedikit terkejut aku mengambil kotak yang diulurkan Mas Panji. Melihat, menimang, sedikit digoyang, tetap saja aku tidak bisa memperkirakan apa isi kotak hijau ini. Lalu aku bertanya dengan sedikit mengangkat kotak hijau itu dihadapanku.

“Maksud Mas Panji apa, dengan bungkusan ini ? Kita belum lama saling mengenal. Baru hari ini kita berdua bertemu, belum satu jam. Mas Panji sudah memberi Surti hadiah ?”

“Dhek Surti, mungkin baru hari ini mengenal saya. Akan tetapi saya sudah cukup mengenal dhek Surti. Apakah dhek Surti tidak sadar dengan atribut yang saya pakai ? Baju warna hijau, kotak hadiah yang juga berwarna hijau. Dan mungkin dhek Surti juga sudah melihat kalau hari ini saya sengaja menggunakan mobil ayah saya yang berwarna hijau. Karena saya tahu bahwa dhek Surti menyukai warna hijau. Benar kan ?”

“Dari mana Mas Panji tahu, kalau warna kesukaanku warna hijau? Dan dari siapa Mas Panji mengenal aku ?“

“Kata orang banyak jalan menuju Roma”, jawab Mas Panji dengan sedikit tersenyum.

“Iya, tapi dari siapa mas Panji tahu tentang aku ? Selama ini aku tak pernah melihat mas Panji main ke rumah ini ataupun nama Mas Panji disebut-sebut oleh orang-orang di rumah ini. Baik kedua orang tuaku ataupun kedua kakakku ?”, ujarku dengan penasaran. Keluargaku bukan keluarga yang suka mengumbar hal-hal yang terkait dengan keluarga. Memang aku dan kedua kakakku jarang ada di rumah karena melanjutkan kuliah ke kota. Pulang hanya satu atau 2 bulan sekali. Bapak sering mampir ke tempat kami bertiga kalau mengambil barang dagangan di kota.

“Beberapa waktu lalu, aku bersama ayahku berkunjung ke sini untuk keperluan dinas ayahku. Tanpa sengaja aku melihat foto dhek Surti yang ada di ruang makan. Tersenyum manis. Dan aku langsung jatuh hati. Saat aku mengatakan isi hati kepada ayah sepulangnya dari rumah ini, ayahku menyambut gembira. Dan di rancanglah pertemuan ini. Namun sebelumnya aku berkunjung ke sini sekali lagi untuk mengenal dhek Surti dari orang-orang sekitar dhek Surti. Dan aku yang meminta agar semua orang menyembunyikan ini dari dhek Surti. Aku takut dhek Surti langsung menolaknya tanpa mau mengenalku terlebih dahulu.” Jawab Mas Panji panjang lebar.

Aku hanya melihat dan memperhatikan wajah lelaki muda di depanku. Entah apa yang harus aku katakan. Mengapa harus aku ? Mengapa bukan Mbak Arum, kakakku nomor dua.

Melihat aku hanya terdiam tak menjawab, Mas Panji melanjutkan penjelasannya.

“Dari informasi yang saya dapatkan dhek Surti belum mempunyai kekasih hati. “

Iya, keberadaan Kang Parjo memang hanya aku dan para pembantuku yang tahu. Jika kedua orang tuaku sampai tahu, bisa kuncup sebelum berkembang, Jawabku dalam hati. Tapi Kang Parjo kan belum menyatakan cinta dan mengapa aku mengharapkannya ? Apakah aku…. Ah, entahlah. Hatiku menjadi berdebar kencang memikirkan Kang Parjo.

“Oleh karena itu aku memberanikan diri untuk mengajukan diri sebagai kekasih. Aku tahu kita baru saling mengenal, rasanya terlalu terburu-buru jika aku langsung melamar dhek Surti. Masih ada waktu sebelum dhek Surti lulus kuliah. Dan aku juga masih ingin memantapkan karirku di rumah sakit.”

Sekali lagi aku terkejut. Aku menjadi Siti Nurbaya. Di jodohkan dengan laki-laki muda yang baru aku kenal hari ini. Dengan kening berkerut aku lalu bertanya, “Maksud Mas Panji, kedua orang kita telah bersepakat untuk menikahkan kita suatu hari nanti ? Tapi mas,….”

“Aku tahu, dhek Surti belum siap. Kita bisa saling mengenal terlebih dahulu. Toh, tempat kerjaku dan tempat kuliah dhek Surti berada dalam satu kota, jadi komunikasi kita akan lebih lancar. Aku tidak akan memaksa dhek Surti untuk menerimaku sekarang. Tapi aku sangat berharap dhek Surti mau mengenalku lebih jauh “

“Bukannya aku tidak suka dengan Mas Panji. Akan tetapi aku sedang dekat dengan seseorang. Memang aku belum memperkenalkannya kepada orang tuaku. Namun hatiku terlanjur terpikat kepadanya. Dia bukan orang hebat seperti mas Panji. Namun kesedernahaan yang dia miliki membuat aku terpikat. Aku pikir tidak terlalu susah jika seorang wanita harus jatuh hati kepada sosok seperti mas Panji. Sudah mapan. Tampan. Dan baik hati. Untuk itu aku benar-benar minta maaf kalau aku tidak bersedia untuk berta’aruf dengan mas Panji. Aku hanya bersedia berteman dengan mas Panji. Jodoh hanya Tuhan yang tahu, siapa dan dimana kita akan dipertemukan. Aku berharap mas Panji menerima keputusan ini. Urusan dengan kedua orang tuaku, aku yang akan menyelesaikan dan menjelaskannya”

Sesaat setelah aku menjelaskan keputusan yang aku ambil, mas Panji hanya tertunduk. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak mau dijodohkan dengan orang yang hidupnya tidak jauh berbeda dengan hidup yang telah aku jalani. Aku terpikat dengan sosok dan kesederhanaan hidup Kang Parjo. Yang selama ini tidak pernah aku alami. Bagiku hidup serba berlebihan dan melimpah harta adalah hal yang biasa. Aku ingin menjalani hidup yang berbeda saat aku menikah nantinya. Berkecukupan dalam kesederhanaan.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 25, 2009 in 4661

 

One response to “Cerita Lampau

  1. ahita

    Maret 25, 2009 at 7:33 am

    selalu tersenyum untuk buah hatimu, OK

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: