RSS

CERITA ANAK

12 Apr

SUATU SIANG BERSAMA MBAK YEM

“Assalamualaikum. Bunda, bunda………..” Langsung aku menuju dapur, setelah beberapa kali aku memanggil bunda tapi tidak ada jawaban. Artinya bunda sedang tidak ada di rumah dan mbak yem sedang asyik dengan kegiatannya di dapur.

“Mbak Yem bundaku ke mana ?”, sapaku pada perempuan muda yang membantu bunda mengurus rumah.

“Bundanya Mas Arya sedang ada acara di kantor bapak. Mas Arya mau makan siang sekarang ? Mbak Yem hangatkan sayurnya. Siang ini Mbak Yem bikin sop jagung kesukaan Mas Arya”, jawab Mbak Yem sambil menawariku makan siang. Mbak Yem memang baik. Dia sudah tiga tahun tinggal bersama kami di rumah mungil ini.

“Sebentar lagi mbak. Aku masih capek. Pingin es teh manis. Tolong buatin ya mbak “, pintaku pada Mbak Yem.

“Beres mas”. “Mbak, kenapa ya para orang tua itu lebih senang berada di luar rumah dari pada di rumah ?”

“Lho, kalau hanya dirumah saja siapa yang mencari uang mas ?”

“Maksudku kalau mereka tidak bekerja. Bosen ? pasti itu jawabannya kan “, ujarku sambil menebak jawaban dari Mbak Yem. Mbak Yem hanya tersenyum karena jawabannya bisa ditebak. “Bosen sih boleh mbak, tapi kan tidak setiap hari. Masak setiap hari keluaar terus. Kasihan anaknya jadi kurang kasih sayang. Walaupun mereka bekerja, mereka harus menyediakan waktu untuk anaknya. Iyakan Mbak ?”

“Mas Arya kok ngerti bahasa sulit seperti itu tho ? Mas ini masih kelas tiga ‘kan? Dan lagi, Mas Arya kok tiba-tiba membicarakan hal ini ? Toh bundanya Mas Arya jarang keluar rumah kecuali bener-bener penting”

“Ah, mbak ini. Walaupun aku masih kelas tiga aku kan sudah besar. Aku juga tahu pekerjaan Bunda sebagai seorang penulis tidak perlu sering keluar rumah. Tapi mbak sebenarnya tadi waktu istirahat aku tanpa sengaja mendengar ibu guruku bercerita tentang seorang kakak kelasku. Katanya dia itu jarang mengerjakan pekerjaan rumah, lalu kalau di kelas sering melamun. Tapi mbak waktu istirahat dia itu sukanya mengganggu teman-teman yang lain”, ceritaku pada Mbak Yem.

Lalu orang tuanya ke mana mas ? Kok anaknya tidak di urus ?”, tanya Mbak Yem menimpali ceritaku.

“Aku sih tidak tahu mbak. Tapi aku sering melihat dia di antar pakai mobil bagus. Mobilnya seperti punya bosnya ayah yang ada di kantor itu mbak. Trus kalau dia mau turun di bukain pintu sama pak sopirnya”, jawabku dengan sedikit kagum.

“Anak orang kaya dong mas !” “Sepertinya sih begitu mbak. Karena pak sopirnya itu pakai seragam kayak film-film Cina yang biasa mbak lihat sore-sore itu”.

“Itu bukan film Cina mas tapi dari Korea hanya saja orangnya memang mirip-mirip. Mas Arya ceritanya sambil makan ya, mbak ambilin “

“Tapi Mbak Yem temeni aku ya. Sudah tidak ada pekerjaan kan ?”, tanyaku pada Mbak Yem.

“Semua sudah beres mas. Mbak nemenin sambil ngupas bawang ya ?“

“Untuk masak apalagi mbak ? Katanya sudah beres ?”

“Untuk hari ini sudah beres. Tapi mbak ingin mempersiapkan untuk acara besok lusa. Mas Arya tidak lupa kan kalau ada syukuran ulang tahun ayahnya Mas Arya “, jawab Mbak Yem sambil mengingatkan aku bahwa besok ulang tahun ayah. Ulang tahun ayah yang ke 30.

“Oh, ya aku hampir lupa.. padahal hadiahnya sudah aku siapkan”. Sambil menyodorkan sepiring nasi beserta lauk Mbak Yem mempersilahkan aku untuk makan, “Silakan, jangan lupa berdoa dulu mas “.

Aku hanya mengangguk lalu memanjatkan doa sebelum makan seperti yang sudah aku hafalkan atas bimbingan bunda. “Mbak, menurut Mbak Yem, mengapa anak orang kaya malah sering bermasalah ?”

“Tidak semua mas” Aku hanya menganguk karena aku sedang mengigit ayam goreng bagian paha lagi, sedapp. “Mau kaya mau miskin, kalau orang tuanya bisa membimbing anaknya dengan baik pasti hasilnya baik. Perkembangan anak itu tergantung pada orang tuanya mas”.

“Ih, Mbak Yem kok sok tahu sih ? Mbak Yem kan belum pernah menikah, apalagi punya anak”, jawabku sambil bertanya kembali. “Tapi Mas Arya kan tahu saya sudah cukup lama menjadi pembantu. Selama lima tahun. Mulai berumur 18 tahun.

Pertama kali saya menjadi pembantu saya kurang beruntung mas “

“Maksud Mbak Yem ?”, tanyaku lagi dengan sedikit penasaran.

“Saya itu sering dipukul mas“

“Di pukul ? Dengan siapa mbak ?”, tanyaku dengan penasaran. Karena aku belum pernah melihat aksi pukul memukul di keluargaku. Apalagi pada seorang yang sering membantu keluargaku seperti Mbak Yem ini. “Dengan anak laki-laki majikannya Mbak Yem mas. Mas tahu kenapa ?”

Aku tidak menjawab hanya menggeleng.

“Karena anak laki-laki itu jika melakukan sebuah kesalahan kecil sering di pukul oleh papanya terkadang juga di cubit dan di jewer telinganya. Di hukum secara fisik Mas. Jadi kalau Mbak Yem salah sedikit pasti di pukul. Papa mamanya hanya mencegah dengan berteriak, mana bisa hal itu menghentikan si anak. Coba kalau orang tuanya itu mau bertindak, tentunya Mbak Yem tidak jadi di pukul tho ?”

“Jadi si papa mamanya itu hanya bicara saja ?”, kataku pada mbak yem.

“Iya, omdo, omong doang gitu. Coba kalau di rumah ini kan bundanya Mas Arya tidak begitu. Pokok e beda mas. Oleh karena itu Mas Arya harus banyak bersyukur karena ayah dan bunda mengajarkan hal-hal yang baik saja”.

Iya ya, kalau bunda dan ayah mengajariku untuk selalu sopan dengan orang yang lebih tua. Tidak perduli itu pembantu kita ataupun guru kita. Semuanya harus dihormati. Jika kita mau dihormati orang, kita harus menghormati orang lain terlebih dahulu, gumanku dalam hati. “Tapi Mbak Yem senang kan tinggal di sini ?”

“Kalau tidak seneng, Mbak Yem sudah cabut dari dulu mas”.

“Ah, Mbak Yem sok gaul ketularan sinetron tuh”, ujarku sambil berdiri dan berpamitan pada Mbak Yem, “Terima kasih ya Mbak Yem. Aku mau ke kamar dulu”. “Sama-sama mas. belajar yang rajin ya biar ayah bunda bangga ama Mas Arya. Mbak Yem juga mas”, jawab Mbak Yem sambil tersenyum.

Lalu aku menjawab sambil tersenyum riang, “ Oke deh.. aku juga bangga padamu mbah yem yang baik hati”. Tapi kalimat yang terakhir aku ucapkan di dalam hati, kan malu hehehe.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 12, 2009 in 4661

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: