RSS

PRITA TIDAK SOMBONG LAGI (dimuat di majalah mentari)

01 Feb

 

Adalah seekor kupu-kupu nan cantik yang hidup di sebuah taman kerajaan. Prita namanya. Memiliki sayap pelangi yang membaur dengan menawan. Merah, kuning, hijau dengan semburat keemasan di masing-masing sisinya. Warna-warna yang nampak sedap dipandang mata. Tak jemu teman-teman, orang tua kupu-kupu lain mengaguminya. Kalau boleh di bilang Prita kupu-kupu tercantik di taman ini.

Sang putripun sangat menyukai duduk berlama-lama di taman ini hanya untuk menikmati keindahan kepak sayap Prita, di temani sang mentari pagi. Putri Alea sebenarnya tak kalah cantiknya dengan Prita. Rambutnya yang hitam mengkilat selalu di ikat dengan pita sutra yang lembut dengan warna-warna yang menawan.

Putri Alea menunjukkan rasa sukanya pada Prita dengan membuat sebuah jepit kupu-kupu yang mirip dengan sayap-sayap indah Prita.

Sayang sekali keindahan sayap Prita tak seindah perangai Prita. Prita seekor kupu-kupu yang sadar diri kalau dirinya memiliki sayap yang indah nan cantik. Hal ini membuat Prita sombong. Yang seharusnya sebagai mahluk Tuhan tidaklah kita diperkenankan untuk menyombongkan diri hanya karena sedikit kelebihan yang dimiliki.

Suatu hari di musin semi Prita berjalan-jalan mengunjungi bunga-bunga yang sedang bermekaran dengan sempurna. Kelopak bunga yang sedang menghangatkan diri semakin tampak merekah. Prita terbang dengan lemah gemulai bagaikan seorang penari saat di atas panggung. Dengan kepak sayap warna warninya, membuat bunga-bunga berdecak kagum. Mawar merah, mawar kuning dan mawar putih serentak menyapa Prita yang sedang melewati tangkai mereka.

“Salam, Prita. Hendak kemanakah engkau, wahai kupu-kupu cantik ?”

Seakan ingin menggoda dan memperlihatkan sayap indahnya, Prita tidak menjawab dan hanya berputar-putar di sela-sela dahan mawar yang berduri. Dengan gesit dan lincah Prita terbang berputar-putar.

Ketiga bunga hanya tersenyum. Mereka bertiga hanya bisa tersenyum-senyum seakan berkata. “Wah, mulai nih. Prita mulai memamerkan sayap-sayap indahnya”. Hampir semua penghuni taman ini sudah mengenal sifat sombong Prita.

Setelah sekian lama menikmati harum bunga sekaligus memamerkan sayap-sayapnya yang indah. Dan nampak lebih indah saat mentari turut menyinari sayapnya. Semburat keemasan yang dimilikinya bersinar dan bercahaya. Sungguh mengagumkan.

Namun kali ini Prita kurang beruntung. Karena terkejut dengan kemunculan ulat yang tiba-tiba dari balik daut, sapap sebelah kirinya tergores duri tangkai mawar kuning dan terasa perih.

“Auw…sakit “, Prita berteriak perih. Sambil menstabilkan diri dengan sayap kanannya Prita terjatuh di sebuah daun lebar. Prita mulai menangis dan memaki ulat yang bergerak mendekat karena merasa bersalah.

“Dasar ulat jelek. Mengapa kamu membuatku kaget ? Kamu iri dengan sayap indahku ya. Pergisanajangan dekat-dekat aku. Sayapku tidak akan pernah bisa kamu perbaiki. Pergi……”

Teriakan Prita membuat si ulat takut. Dan terdiam namun tidak menjauh. Si ulat sebenarnya ingin menyentuh sayap indah Prita. Namun dia tidak mau bersikap kurang ajar. Ulat takut Prita bertambah marah.

Teriakan Prita ternyata juga mengundang neneknya mendekat. Nenek Prita terkenal sebagai kupu-kupu tua yang baik hati dan pintar mengobati. Seperti layaknya dukun di dunia manusia.

“Adaapa sayang ? Mengapa sayapmu terluka ?”, tanya nenek dengan lembut. Dengan terbata-bata Prita menceritakan kembali kisahnya.Parabunga hanya tersenyum dengan harapan Prita mengambil pelajaran dari kemalangan yang menimpanya. Kesombongan pasti akan berakibat buruk pada diri kita sendiri. Dan saat ini Prita kena batunya karena kesombongannya tidak mau menjawab salam dari ketiga bunga.

“Semua ini karena ulat jelek itu….”, Prita mengakhiri ceritanya dengan menunjuk dan berteriak pada si ulat yang hanya menatap Prita dengan penuh rasa penyesalan.

“Sayang, tidak boleh kasar kepada mahluk lain. Prita sayang, kamu tahu, sebelum kamu menjadi seekor kupu-kupu yang cantik seperti sekarang ini, waktu kecil kamu juga berwujud seperti ulat kecil itu “, nenek berusaha menenangkan Prita. Kemudian nenek melanjutkan, “Semua kupu-kupu berawal dari telur yang mungil, lalu berkembang menjadi ulat kecil seperti dia “. Nenek menunjuk pada ulat kecil. Lalu dengan isyarat tangan nenek meminta si ulat mendekat.

“Setelah itu ulat bermetamorfosis menjadi sebuah kepompong. Yang kemudian merubahlah menjadi kupu-kupu yang cantik. Sayap indah dengan penuh warna. Yang akan berkilauan saat tersentuh sinar matahari “.

Si ulat, Prita bahkan ketiga bunga mawar terdiam mendengar cerita nenek. Ketiga bunga turut membenarkan kisah nenek.

Dengan wajah tidak percaya Prita bertanya “Apakah benar dulu aku sejelek ulat itu ?”

“Sayang, ulat itu tidak jelek. Semua mahluk yang ada di dunia ini memiliki keindahan sendiri-sendiri. Tidak ada gunanya kita merasa cantik namun sikap dan sifat kita tidak cantik. Tidak ada yang mau berteman dengan kita “

“Jadi itu sebabnya, kupu-kupu yang lain tidah mengajakku ke pesta ulang tahun Meyra beberapa hari yang lalu ?”

Nenek hanya bisa tersenyum senang. Ternyata cucunya yang cantik sudah menyadari kesalahannya.

Prita mengerti arti senyuman nenek, lalu tersenyum manis pada si ulat sambil berkata “Aku berjanji tidak akan menyombongkan diri lagi “. 

 
 

3 responses to “PRITA TIDAK SOMBONG LAGI (dimuat di majalah mentari)

  1. Nila

    Januari 30, 2013 at 1:14 am

    Kalau cerita kita dimuat, kita dikasih tahu gak, kak? Berapa lama masa tunggu pemuatannya?

     
  2. ita

    Mei 19, 2013 at 5:48 am

    kalau untuk majalah mentari kemaren, aku tidak mendapat pemberitahuan tapi langsung datang weselnya. tapi itu semua tergantung majalah masing-masing mbak nila….

     
  3. Lina

    Mei 21, 2014 at 6:20 pm

    Salam Mbak Ita… Kalau sekarang majalah Mentari masih terbit? Saya mau mengirim karangan, punya alamat emailnya? Atau bagaimana cara mengirimkannya? Terima kasih.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: