RSS

MENDONGENG ATAU BERCERITA ADALAH SESUATU YANG GAMPANG ATAU SUSAH ?

27 Feb

Begitu banyak dongeng atau cerita yang bisa disampaikan kepada anak-anak kita. Tentang kisah hidup, keteladanan, cara bersopansantun bahkan tentang matematika. Ada beberapa anak yang lebih gampang mempelajari sesuatu apabila melalui cerita. Tetapi tidak gampang lho membuat orang tertarik akan cerita kita. Apalagi audiens kita, anak-anak. Em…..gampang-gampang susah sih, atau susah-susah gampang, hehehe, whateverlah jawab pertanyaan setelah membaca tulisan dibawah ini ya…

Kali ini saya ingin berbagi tentang beberapa hal yang harus kita persiapkan agar kita menjadi “Pencerita atau Pendongeng” yang menarik untuk anak-anak. Berikut ini ada beberapa hal yang bisa menjadi pengetahuan dasar kita dalam bercerita atau mendongeng. Sesuatu yang saya tulis ini bukan hasil tulisan saya semata, tetapi juga dari hasil membaca dari blog dan tulisan teman-teman yang sudah terlebih dahulu membahas tentang cara  mendongeng dan bercerita yang menyenangkan, terutama untuk mendongeng atau bercerita kepada anak-anak.

Sebelum kita bercerita, hal utama yang harus dipersiapkan adalah bahan bakar dari cerita kita. Ibaratnya naik motor, kita butuh bensin agar motor kita bisa berjalan. Selain bahan bakar tentunya kita juga harus memiliki kemampuan untuk membuat motor itu berjalan dengan baik. Nah, kalau berkaitan dengan mendongeng bahan bakarnya adalah “bank” cerita yang kita miliki. Banyak membaca akan memperkaya “bank” cerita kita, sehingga cerita yang kita bacakan lebih variatif dan tidak membuat anak bosan. Membaca bukan hanya membaca buku. Tetapi juga membaca kejadian atau fenomena yang terjadi di kehidupan sekitar kita ataupun kehidupan sekitar anak-anak kita.

Biasakan untuk dekat, baik ngobrol ataupun bermain dengan anak. Dengan mengobrol dan bermain kita bisa mengetahui dan memahami gaya bahasa anak kita, istilah yang dia gunakan, sesuatu yang sedang menarik perhatiannya serta sejauh mana pemahamannya akan sesuatu. Hal ini akan membuat kita lebih paham apa yang ia sukai dan ia tidak sukai, sehingga memudahkan kita bercerita kepadanya. Kemauan kita untuk mendengar merupakan realisasi dari cinta dan kasih sayang kita kepadanya.

Setelah kita mengisi bahan bakar maka kita harus mempelajari bagaimana motor bercerita kita bisa berjalan dengan baik. Saat kita menyampaikan suatu cerita berikan penekanan pada dialog atau kalimat tertentu dalam cerita yang kita bacakan atau kita tuturkan, kemudian lihat reaksi anak. Ini untuk mengetahui apakah cerita kita menarik hatinya atau tidak, sehingga kita bisa melanjutkannya atau menggantinya dengan cerita yang lain.

Kita bisa menarik perhatian  dengan mengeluarkan suara yang cukup keras (tidak perlu berteriak) untuk dapat didengar oleh semua anak yang mendengarkan cerita kita. Kita juga harus bisa menyajikan cerita secara dramatis. Berekspresilah dengan nyata.  Ungkapan emosi dalam cerita, seperti marah, sakit, terkejut, bahagia, gembira atau sedih agar anak mengenal dan memahami bentuk-bentuk emosi.  

Kita harus betul-betul menguasai cerita sehingga tahu kapan harus menekankan kata-kata tertentu atau memperlihatkan mimik muka tertentu. Misalnya kita sedang bercerita tentang seorang nenek, kita perlu ikut merubah suara kita menjadi suara nenek-nenek, agar anak-anak lebih menjiwai cerita kita. Perlihatkan gerakan yang sesuai dengan cerita anda. Contohnya jika kita bercerita tentang seorang yang sedang berbisik, maka kita tirukan gaya orang yang sedang berbisik.

Hal yang tidak kalah pentingnya dalam bercerita adalah gerakan mata kita. Tataplah mata anak-anak secara bergantian. Dengan tatapan mata anda ini anda dapat menguasai seluruh audiens. Ketika kita berbicara atau bercerita di depan anak-anak, ingatlah bahwa suara kita dan mimik muka serta sorotan mata kita sangat menentukan apakah kita akan berhasil menarik perhatian mereka.

Bila perlu sertakan benda-benda tambahan seperti boneka, bunga atau benda lain yang bisa mempermudah kita menyampaikan pesan dalam cerita kita. Isi pesan dan sifat cerita atau dongeng,  serta dampak yang ditimbulkan untuk anak-anak diharapkan mengandung nuansa hiburan yang mendidik dan keratif bagi anak-anak, sehingga anak merasa senang dan terhibur. Selain itu juga diharapkan mengandung pesan moral yang dalam dan komprehensif, sehingga cerita bisa dijadikan cara mendidik yang tanpa disadari anak.

Sebuah cerita biasanya akan lebih menarik jika mampu membuat anak-anak penasaran, sehingga merangsang rasa ingin tahu akan kelanjutannya dan akhir ceritanya.

Nah, sekarang apa jawaban dari pertanyaan di atas ?

Selamat menjawab dan mencoba berdongeng.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: